R. Lilik Siswanto (*)
Apakah Anda ingin siapa pun menghargai Anda? Baik pasangan Anda atau pacar Anda, anak Anda, orang tua Anda, atasan Anda, bawahan Anda, tetangga Anda, atau siapa pun mereka! Apakah Anda ingin dimana pun berada orang lain rela menerima Anda sebagai sosok pribadi yang istimewa? Baik di rumah, di tempat kerja, di lingkungan tempat tinggal Anda, di ruang lingkup usaha sampingan Anda, atau dimana pun Anda berada!
Ada satu resep jitu yang baru saja saya dapatkan. Resep yang baru saja saya sadari hanya dipegang teguh oleh sedikit orang, yang menyebabkan mereka menjadi sosok-sosok istimewa dan sukses. Sukses spiritual serta material. Resep ini, bila disampaikan dalam sebuah seminar bisnis, tiket masuknya bisa mencapai jutaan rupiah.
Jadi, maukah Anda mengetahui resep itu? Saya yakin Anda sangat menginginkan. Mengapa? Karena saya yakin Anda ingin dihargai, diterima sebagai sosok yang istimewa, serta Anda sangat ingin dikasihi oleh setiap orang. Bukankah seperti itu keinginan yang menetap dalam hati Anda yang paling dalam?
Menariknya, resep ini akan Anda dapatkan gratis. Anda tidak perlu membeli tiket seminar senilai jutaan rupiah. Anda juga tidak perlu datang ke sana. Anda akan mendapatkan resep ini dengan cara yang sangat mudah. Anda hanya perlu membaca tulisan ini sampai selesai. Menarik kan?
Tapi, sebelum saya menyampaikan satu resep rahasia agar siapa pun menghargai Anda itu, ijinkan saya untuk menceritakan satu kisah yang sangat memukau. Satu kisah yang saya alami kira-kira 10 bulan yang lalu. Saya berharap Anda bisa menemukan resep rahasia tersebut dari kisah yang saya alami itu, seperti halnya saya menemukan resep rahasia itu.
Anda sudah siap?
Inilah kisahnya. Malam itu, sekitar jam 10 malam, saya mendadak terharu. Benar-benar sangat terharu, sekaligus bahagia luar biasa. Sebetulnya pemicunya teramat sederhana. Saya mendapat sebuah SMS.
Awalnya saya penasaran. ”SMS dari siapa ini?” begitu pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya. Maklum, SMS tersebut dari nomer hape yang belum saya kenal, ini terbukti dari namanya belum masuk ke daftar kontak di hape saya.
Semula saya berpikir yang mengirim SMS adalah seorang laki-laki. Dugaan saya ini muncul dari sebuah nama yang tertera di akhir SMS , yaitu Roby. Saya akhirnya mengetahui bahwa si pengirim adalah seorang perempuan saat saya memperoleh SMS balasan, setelah sebelumnya saya mengirim SMS dengan sapaan Pak! Ternyata Roby, si pengirim SMS itu, adalah Miss Roby. Bukan Pak Roby. Saya tersenyum usai membaca SMS balasan itu!
Saya terharu dan gembira bukan lantaran saya seorang laki-laki dan menerima SMS dari seorang perempuan. Tetapi dari lokasi asal si pengirim SMS, juga dari isi SMS nya. Asal lokasi pengirim SMS ternyata dari Hongkong. Terus terang ini membuat saya sangat bergembira. Mengapa? Karena jujur saja, hingga detik malam itu, pesan singkat dari Miss Roby adalah SMS dari luar negeri yang pertama kali masuk ke hape saya. Dalam sepanjang sejarah saya memiliki hape.
Namun, kegembiraan saya bukan hanya dikarenakan negara asal si pengirim saja. Ada hal lain yang membuat diri saya sangat merasa dihargai sebagai seorang pribadi. Yaitu saat saya membaca isi SMS nya. Sebuah saran sekaligus saya rasakan sebagai sebuah sanjungan.
Inti isi dari SMS tersebut adalah Miss Roby menginginkan buku yang saya tulis, berjudul Menjadi Kaya bersama BannerStore, diterjemahkan ke Bahasa Inggris dan Bahasa Taiwan. Sebab ia ingin mengirim buku tersebut ke teman-temannya yang berada di Taiwan, Singapore, dan Hongkong. Dimana mereka semua tidak bisa membaca buku berbahasa Indonesia.
Dheg! Jantung saya berdegup kencang seusai membaca isi SMS itu. Terharu, gembira, sekaligus bangga. Bayangkan kalau hal itu terjadi pada diri Anda, saya pastikan Anda juga akan merasakan hal yang serupa dengan saya. Ya kan?
Dari beberapa kali SMS yang ia kirim, akhirnya saya tahu bahwa Miss Roby adalah seorang TKW asal Indonesia, tepatnya dari daerah Banjarnegara. Yang saat ini bekerja di Hongkong. Dan, ia memperoleh buku yang saya tulis dari kiriman seorang temannya.
Akhirnya hingga saat ini, ada sekian banyak SMS yang berasal dari pembaca buku saya, tetapi hanya satu nama yang paling nyantol di benak saya: Miss Roby. Dia bisa menghargai saya, sehingga saya pun sangat respek kepadanya. Saya lebih mengingatnya dibanding dengan si pengirim SMS yang lain.
Sampai di sini, apakah Anda sudah menemukan resep rahasia agar siapa pun menghargai Anda? Belum? Oke, saya akan segera menjelaskan khusus bagi Anda.
Coba Anda kembali ingat apa yang dilakukan Miss Roby terhadap saya? Dia mengirim sebuah SMS yang menyiratkan betapa berharganya buku hasil karya saya. Sepertinya ia mau mengucapkan,”Pak Lilik, buku Menjadi Kaya bersama BannerStore sangat bagus! Saya akan mengirim ke teman-teman saya, yang notabene mereka bukan orang-orang Indonesia. Buku Menjadi Kaya bersama BannerStore sangat layak dibaca oleh mereka. Jadi, tolong diterjemahkan ke bahasa mereka.”
Anda sudah tahu kan resep rahasia yang saya maksud? Saya akan sebentar lagi memberitahu secara gamblang buat Anda. Resep yang sebenarnya sudah lama ada, dan mungkin sudah Anda ketahui dan pahami. Apa itu? Ini dia, satu-satunya resep agar siapa pun menghargai Anda adalah Anda memberi penghargaan kepada mereka dulu. Jadi, kata kuncinya adalah Anda melakukan terlebih dahulu. Anda tabur sikap menghargai kepada siapa pun dan dimana pun, lalu bersiap-siaplah kalau akhirnya siapa pun akan menghargai Anda. Dimana pun Anda berada!
”Tapi, selama ini saya sudah berusaha menghargai orang lain. Saya selalu berusaha membuat orang lain senang, tapi kenapa ada beberapa orang yang memberi balasan yang sebaliknya. Mereka menghina saya. Mereka mencemooh saya. Mereka acuh. Dan sebagian dari mereka menusuk saya dari belakang. Bagaimana ini, kenapa resep yang Anda uraikan tidak jitu?” Mungkin dalam hati Anda muncul pernyataan dan pertanyaan seperti itu, atau sejenis itu.
Bagus! Kalau Anda mengalami hal-hal itu. Anda sudah benar melakukan kewajiban Anda, selalu berusaha menghargai orang lain. Lalu, bagaimana menghadapi sebagian orang yang bereaksi negatif padahal Anda berbuat positif kepada mereka? Jawabannya adalah Anda memerlukan resep lain yang harus Anda ketahui. Dan setelah resep itu Anda ketahui, Anda harus mempraktikkannya. Satu resep ajaib yang lain. Satu resep yang bisa mewujudkan apa pun keinginan Anda. Entah itu kebahagiaan, hubungan yang harmonis dengan orang lain, kecukupan materi, dan apa pun impian Anda yang lain.
Apa itu resep rahasia lain yang bisa mewujudkan apa pun impian Anda?
Anda perlu bersabar, dan menemukan jawabannya di artikel selanjutnya.
Selamat menunggu!
* Penusaha [sengaja tanpa g]
Sabtu, 2008 Oktober 25
Resep Rahasia agar siapa pun menghargai Anda
Diposkan oleh
R. Lilik Siswanto
di
10:10
7
komentar
Label: Spiritual
Jumat, 2008 Maret 28
Aku vs saya
Aneh... saya sendiri tidak tahu darimana asalnya. Mengapa bisa terjadi? Sejak kapan perasaan ini muncul? Bagaimana hal ini bisa terjadi? Siapa yang mempengaruhi sehingga bisa terjadi? Hanya tahu dan merasakan apa yang terjadi... itu saja. Selain itu masih menjadi misteri, masih dalam tanda tanya. Masih memerlukan jawaban.
Saya merasakan kurang nyaman menulis kata ’aku.’ Bahkan bisa saya katakan tidak nyaman. Saya lebih nyaman menulis kata ’saya’ dibanding menulis ’aku.’ Setiap mau menulis kata ’aku’, tiba-tiba, entah datang darimana, entah dari siapa, entah bagaimana, hati saya mengatakan ’aku’ sebagai kesombongan. Kecongkakan. Memegahkan diri. Sehingga, bila dalam pikiran saya menyuruh menulis kata ’aku’ dan saya tulis kata ’aku’... tidak lama kemudian, hati saya berkata. SOMBONG! CONGKAK! Dan, hati saya menyarankan saya mengantinya dengan kata ’saya.’
Pernah suatu ketika saya terlanjur menulis kata ’aku’, kemudian hati saya berkata, ”Ganti dengan kata saya. Aku itu sombong. Congkak. Ayo, segera ganti.” Dan ketika saya mau menggantinya, gantian pikiran saya berkata, ”Menulis kata ’aku’ bukan berarti sombong. Itu hanya menunjukkan sebagai kata ganti dirimu. Itu hanya bentuk kamu menunjukkan jati dirimu. Itu juga bentuk bahwa dirimu percaya diri. Bukan sebuah kesombongan. Bukan sebuah tindakan congkak. Jadi, tenang saja, tidak usah kamu ganti.”
Mana yang benar? Aku atau saya? Pikiranku atau hati saya? Sampai saat saya menulis ini, saya masih mencari jawaban. Bukan dari kata orang lain. Tetapi dari jawaban dalam diri. Antara si aku dengan si saya.
Meski membuat saya kurang nyaman, tapi biarlah saya jalani, nikmati, meski saya belum memahami saat menjalani. Saya yakin, suatu saat akan saya temui jawaban. Bertemu solusi dan rekonsiliasi (akur?) antara si aku dengan si saya...
Kendalisodo, 26 Maret 2008
22.29 Wib
Diposkan oleh
R. Lilik Siswanto
di
08:27
2
komentar
Label: Catatan harianku
Obrolan Jas dengan Roh
Manusia terdiri dari: tubuh jasmani dan rohani. Lahir dan batin. Perlukah mereka berkomukasi satu sama lain? Seperti yang terjadi di bawah ini.
”Hai, Jas (panggilan tubuh jasmani) hari ini kita mau kemana?” tanya (tubuh) Rohani.
”Em... bagaimana kalau kita ke pasar. Persedian beras, dan sayur mayur sudah menipis lho,” jawab si Jasmani.
”Tapi jangan lupa beli buku ya. Saya membutuhkan makanan baru juga lho,” timpal Rohani.
”Tapi... uang kita terbatas. Ini mungkin hanya cukup untuk beli beras dan sedikit sayur saja.”
”Wah... ya jangan egois gitu dong. Masak kamu cuma pikir dirimu, bagaimana dengan aku?” protes Rohani.
”Ya, enggaklah... kamu kan masih bisa makan buku-buku yang di rumah. Kitab suci juga belum selesai dibaca. Belum katam (?). Atau dengerin kaset motivasi yang kita beli dua bulan lalu. Juga bisa kan?”
”Lagi-lagi makanan basi... Itu-itu lagi.” Muka Rohani berubah kisut. ’Besengut.’
”Oke deh... bulan depan aku janji belikan kamu buku baru. Suwer! Janji,” hibur Jasmani.
”Bener... janji?”
”Janji,” timpal Jasmani menyakinkan sambil tangan kanannya di angkat. Dengan dua jari, telunjuk dan jari tengah, berdiri tegak.
”Oke deh... DEAL,” balas Rohani.
Jasmani tersenyum puas. Rohani membalasnya.
* * *
Tengah malam. Saatnya bagi Jasmani untuk tidur. Setelah berdoa, ia menitipkan pesan buat Rohani.
”Roh, tolong besok saya dibangunkan jam 4 pagi ya.”
”Mau ngapain sih, koq pagi amat. Nggak seperti biasanya. Paling pagi jam 5,” sahut Rohani.
”Mau nyeselaikan tulisan untuk buku yang sudah ditunggu penerbit itu lho.”
”O... itu ya, oke! Siap! Selamat istirahat ya...”
”Makasih ya, jaga diriku saat tidur ya. Dan tolong kirimkan mimpi indah ya. Usahakan ketemu sama Agnes Monika, gitu lho,” goda Jasmani.
”Huh... maunya. Sudah tidur, soal ngimpi gampang.”
”Iya... gampang-gampang, tapi jangan kayak mimpi hari Senin lalu dong. Masak ngimpi dikejar-kejar sama Mpok Indun... Hiiii, ngeri kan,” rayu Jasmani.
”Oke deh... saya siapin dulu cd mimpinya ya.”
”Sip deh... nah gitu dong!”
”Mau adegan apaan sama si Agnes Monika?”
”Mau apa ya? Apa ya enaknya?”
”O... ini, saya tahu.”
”Apa itu?” tanya Jasmani penasaran.
”Lagi.... lagi... kamu lagi jadi pembantunya.”
”! * - ?”
Puas, puas, puas. Demikian batin Rohani. Membayangkan logat dan cara Tukul Arwana mengatakannya.
Bagaimana dengan Anda? Apakah sudah terbiasa melatih komunikasi antara tubuh jasmani Anda dengan tubuh rohani Anda? Sudahkan terjalin hubungan mesra antar keduanya? Atau seimbangkah nutrisi bagi keduanya atau masih berat sebelah? Hingga membuat salah satunya iri. Ingat kawan, segala sesuatu butuh keseimbangan. Ingat manusia tidak hidup oleh roti saja, tetapi juga Sabda-Sabda Tuhan. Bukan hanya nasi, tetapi juga nutrisi bergizi tinggi dari Sang Pencipta Bumi.
Kendalisodo, 26 Maret 2008
23.36 Wib
Diposkan oleh
R. Lilik Siswanto
di
08:22
0
komentar
Label: Catatan harianku
Kamis, 2008 Maret 06
Buku yang 'Memprovokasi' saya
Saya memiliki hobi membaca buku, sejak akhir 2004. Sejak saat itu, saya setiap bulan menginvestasikan uang untuk membeli buku. Rasanya ada kepuasan tersendiri, jika bisa membeli buku dan membacanya. Ada sekitar 100 buku yang saat ini menjadi koleksi saya, dan selalu ingin terus menambahnya setiap bulan.
Diposkan oleh
R. Lilik Siswanto
di
09:04
0
komentar
Label: Perpusku
Senin, 2008 Februari 04
Diskus imajinasi dengan Pak Ef

“Anda perlu membangun Personal Branding,” kata Pak Effendi, penulis buku Branding You with Your Smile.
“Apa itu?” sahut saya kilat.
“Citra dirimu di mata orang lain,” timpal Pak Effendi menjelaskan.
“Pak, ada penjelasan yang lebih mudah saya pahami nggak?”
“Merek, merek. Merek diri”
“O… apa seperti nama saya gitu: R. Lilik Siswanto?”
“Ya… itu salah satunya”.
“Salah satunya? Berarti ada yang lain. Apa itu?”
“Ya… lebih spesifik lagi. Coba kamu pikirkan, apa kamu inginkan orang lain lihat dan tertanam ke benak mereka tentang kamu”
“Emmm…,” saya hanya bergumam. Saya merenung, ‘Apa ya?’ Saya coba mencari jawaban, tetapi belum juga ketemu. “Pak Ef, apa sih pentingnya merek pribadi tersebut?” tanya saya memecah kebekuan dan sambil mengalihkan pertanyaannya yang belum bisa saya jawab.
“Karena Personal Branding memiliki daya pikat yang magis dan sangat menentukan bagi suksesnya seseorang menjalin relasi dengan orang lain. Apabila Anda mampu mem-branding diri Anda dengan ritual yang baik, maka respon relasi/ publik Anda akan terkesima. Apabila Anda mampu menciptakan Personal Brand yang baik, maka dengan sendirinya relasi potensial Anda akan datang kepada Anda.” [1]
“Ooo… gitu ya Pak! Kalau demikian apa berarti merek bisa menjadi semacam magnet untuk menarik orang lain.”
Pak Effendi tidak bergeming, hanya menatap dengan sorot mata yang tajam. Saya mencoba menebak-nebak maksud Beliau.
Kembali saya merenung…
Pak Effendi masih diam.
“Pak, tadi Anda mengatakan bahwa nama seseorang adalah salah satu merek. Bagaimana kalau nama seseorang ternyata banyak kembarannya. Seperti nama panggilan saya: Lilik, nah ternyata panggilan itu ternyata nama pasaran. Ada banyak orang di dunia ini yang memiliki nama dan dipanggil dengan satu kata: Lilik. Kalau seperti itu, bagaimana dong?” Saya bertanya untuk memecah kebisuan yang terjadi.
“Makanya tadi saya kan mengatakan nama adalah salah satu merek, makanya Anda memerlukan sesuatu yang lebih spesifik sehingga saat orang lain mendengar namamu langsung ingat dan tahu bahwa itu adalah kamu,” jawabnya menjelaskan dan menegaskan.
“Bisa tidak kalau embel-embel di belakangnya itu profesi, usaha, atau ciri-ciri khusus lainnya. Misal saya gunakan tahi lalat besar yang hinggap di hidung saya.”
Pak Effendi mengangguk-angguk. Melihat reaksi tersebut, membuat saya merasa senang.
“Tetapi, mungkin tidak kalau Lilik, Lilik yang lain juga memiliki profesi, usaha dan ciri-ciri yang sama dengan kamu?”
“Iya… ya Pak. Wah… itu mungkin, bahkan sangat mungkin. Lilik-Lilik yang di luar sana berprofesi menjadi seorang penulis, MLMers, dan juga punya tahi lalat gede di hidung. Bagaimana nih?” sahut saya sambil memegang kening.
“Berarti kamu perlu membangun merek yang lebih spesifik lagi.”
“Apa lagi ya? Merek tentang diri saya yang spesifik dan saya inginkan.”
“Coba kamu cari deh… pasti ketemu...”
Saya mengangguk.
Pak Effendi tersenyum, sebuah senyum yang sangat khas.
“Pak, bagaimana dengan senyum? Bapak menulis buku berjudul: Branding You with Your Smile. Apa manfaatnya senyuman bagi merek diri saya dan orang lain? Bagaimana sebuah senyum dikatakan ideal? Apa saja jenis senyuman? Bagaimana agar saya bisa melatih diri untuk terbiasa tersenyum? Terus, bagaimana strategi membangun merek diri?” saya memberondong Pak Effendi dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
“Kamu sudah baca buku Branding You with Your Smile sampai selesai belum?”
“Belum Pak,” jawabku jujur.
“Nah, kamu selesaikan dulu. Semua pertanyaanmu akan terjawab di buku itu. Oke? Gitu dulu ya, sekarang sudah malam, saatnya kamu tidur. Saya pulang dulu, lain kali obrolan ini kita lanjutkan lagi. Selamat malam!”
“Oke Pak, terima kasih untuk waktu Bapak. Hati-hati di jalan dan titip salam buat istri dan putra-putri Bapak di rumah.”
Saya mengantar Pak Effendi sampai di depan rumah saya, Beliau masuk mobil dan melaju meninggalkan saya.
Saya penasaran mengapa senyuman bisa digunakan untuk membangun citra diri. Ingin segera mengetahui jawaban lewat buku Branding You with Your Smile. Namun, malam hari ini, saya perlu istirahat dulu. Tidak adil rasanya kalau memaksakan diri. Selamat tidur buku, kita akan ketemu esok pagi!
(Sebuah diskusi dalam imajinasi saya bersama XL. Effendi Budi P, penulis buku Branding You with Your Smile.)
[1] Branding You with Your Smile hal. 21, XL. Effendi Budi P, Gradien Books Yogyakarta
.
Diposkan oleh
R. Lilik Siswanto
di
08:54
0
komentar
Label: Diskusi Imajinasi
Kamis, 2008 Januari 03
Obral beras? (cuma Rp.1.600,-/kg)
Bagi sebagian orang yang memiliki penghasilan tetap dan besar, kenaikan harga sembako bukanlah sebuah permasalahan. Mereka tetap bisa membelinya dan tetap bisa memenuhi kebutuhan mendasar yaitu pangan. Namun, tidak demikian dengan kaum lemah (penghasilannya), kenaikan harga sembako (yang biasanya diikuti kenaikan harga-harga produk lainnya) berdampak dan menjadi salah satu beban baru bagi mereka.
Seperti saat terjadi kenaikan harga beras. Sebagian orang di negeri ini bahkan ‘harus’ rela menurunkan kuantitas makannya. Dari tiga menjadi dua kali dalam sehari, bahkan ada yang terpaksa satu kali sehari. Sebagian yang lain, menurunkan ‘kasta’ makanan pokok agar tetap bisa ‘sekedar hidup’. Asal perut terisi dan keyang. Dari nasi beralih ke tiwul (ketela yang dijemur hingga kering, lalu ditumbuk halus menjadi tepung dan dimasak). atau masih tetap nasi, tetapi asal bahannya diubah yang lebih murah. Nasi (beras) ke nasi (jagung).
Maka tidak mengherankan, bagi ‘kaum lemah’, beras murah adalah sebuah anugerah yang bisa membangkitkan gairah. Wajah-wajah itu yang terlihat di lingkungan saya beberapa hari yang lalu, saat pembagian beras murah bagi ‘kaum lemah’. Beras dengan harga Rp.1.600,-/ kg. Memang tidak banyak, hanya untuk 50 orang dan masing-masing hanya memperoleh 5kg. Namun ternyata, beras itu bisa menjadi ‘solusi sementara’ bagi mereka. Setidaknya mereka tidak perlu kuatir untuk memikirkan makan apa, dalam beberapa hari ke depan.
Sekecil apapun yang bisa kita perbuat bagi ‘kaum lemah’, sangat berarti dan bernilai bagi mereka. Teman, perbuatan kecil seperti apa yang sedang Anda persiapkan bagi mereka, hari ini?
Mari kita peduli dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana yang bisa kita lakukan, saat ini juga.
Salam,
R. Lilik Siswanto, Kab. Semarang, akhir tahun 2007..
Diposkan oleh
R. Lilik Siswanto
di
15:01
3
komentar
Label: pengalamanku:






