Sabtu, 14 November 2009
"Untukmu Guruku Kuingat Karyamu"
Kadang kala -atau bahkan sering- aku melupakan jasa-jasa orang yang sangat berjasa bagi hidupku.
Jasa guru, teman, kawan, saudara, dan juga orang tua.
Semoga dengan menampilkan foto ini, aku nisa mengenang jasa-jasa guruku, khususnya guru-guru di SD Kanisius Harjosari.
Semoga... Baca Selengkapnya...
Diposkan oleh
R. Lilik Siswanto
di
10:37
0
komentar
Label: pengalamanku:
Kamis, 22 Oktober 2009
Manfaat & Cara Membuat Reading Record
- Jumlah judul yang sudah dibaca, misal 23 judul.
- RR Buku Umum, yakni RR yang mencatat semua tema buku secara campur aduk hanya dalam sebuah RR.
- RR Buku Khusus, yakni RR yang hanya mencatat tema buku tertentu secara tersendiri seperti; psikologi, teologi, pendidikan, dan lain-lain. Masing-masing tema dicatat di RR tersendiri. Bisa juga satu RR mencatat dua tema buku, misal tema: pengembangan diri & kepemimpinan. Sebaiknya RR Buku Khusus tidak mencatat melebihi dua tema. Jika lebih sebaiknya dijadikan RR Buku Umum saja.
- RR Artikel Umum, yakni RR yang mencatat semua tema artikel secara campur aduk.
- RR Artikel Khusus, yakni RR yang hanya mencatat satu atau dua jenis artikel dengan tema tertentu.
Reading Record (RR) - Peng Kheng Sun BUKU UMUM | ||||||
Kol | Judul Buku | Hal | Penulis | Th | ||
1 | Alkitab PB | 1 | A | 438 | LAI | 01 |
2 | Alkitab PL | 1 | A | 1321 | LAI | 01 |
3 | Buku Pintar Surfing Internet | 1 | C | 190 | Haris Supriansyah | 08 |
4 | 1 | C | 122 | Indayati Oetomo | 07 | |
5 | Creative Writing | 1 | B | 163 | A. S. Laksana | 06 |
6 | Daripada Bete Nulis Aja | 1 | B | 225 | Caryn Mirrian | 05 |
7 | Dunia Kata | 1 | C | 235 | M. Fauzil Adhim | 04 |
8 | Failing Forward | 1 | B | 307 | John C. Maxwell | 08 |
9 | 1 | C | 72 | Indayati Oetomo | 07 | |
10 | How To Mind Map | 1 | B | 76 | Tony Buzan | 04 |
11 | Kiat Sukses Menjadi Penulis | 1 | C | 220 | Triton P.B. | 08 |
12 | Know Can Do! | 1 | B | 117 | Ken Blanchard dkk | 08 |
13 | Langkah Mudah Mengembangkan….Weblog | Wahana Komputer | 08 | |||
14 | Memaksimalkan Fasilitas…Microsoft Excell 2003 | Madcoms | 05 | |||
15 | Metode Riset Bisnis | Suliyanto | 07 | |||
16 | Mind Map for Business Effectiveness | 1 | B | 245 | Sutanto Windura | 08 |
17 | Panduan Belajar CorelDraw12 | Madcoms | 05 | |||
18 | Pengalaman Rohani Sejati | Jonathan Edwards | 03 | |||
19 | 1 | C | 152 | Indayati Oetomo | 07 | |
20 | Seni Mengukir Kata | 1 | B | 331 | Mulyadhi Kartanegara | 05 |
21 | Seni Menjual | 1 | C | 178 | Ali Arifin | 06 |
22 | Sukses Menjual "Kenali Konsumen Anda" | 1 | C | 166 | Frans M. Royan | 05 |
23 | Teknik Profesional Menggunakan CorelDRAW 12 | Dhani Yudhiantoro | 05 | |||
24 | Teori Pengkajian Fiksi | 1 | B | 346 | Burhan Nurgiyantoro | 05 |
25 | Total Quality Management | 1 | B | 415 | Fandy Tjiptono dkk | 04 |
Tujuh Jurus Sukses Memulai Usaha | 1 | B | 255 | Eni Setiati | 07 | |
Buku Pintar Komputer | 1 | B | 228 | Hasyim M., ST | 08 | |
Menulis Di Media Massa | 1 | C | 314 | Paryati Sudarman | 08 | |
Rahasia Umur Panjang | 1 | B | 170 | Elizabeth Subrata | 04 | |
23 | 6.286 | |||||
No | Judul Artikel | Penulis | Sumber | Tgl | |
1 | Buku & Perpustakaan | Kheng Sun | Bahana | Agt 09 | |
2 | Orang-orang Autistis | C | Nurudin | Republika | 8 Agt 99 |
3 | Diabetes Juga Terjadi pada Anak | B | Tommy | Nirmala | 1 Jan 09 |
4 | Teknik Menulis Kolom: Esai… | Farid Gaban | www.sekolah menulis.com | ||
Vaust Vrancic Manusia Terbang… | A | Satrio | Yunior | 27 Apr 08 | |
28 September 2009 | |||||
Baca Selengkapnya...
Diposkan oleh
R. Lilik Siswanto
di
09:22
0
komentar
Label: Artikel KQ
Senin, 12 Oktober 2009
Pertanyaan Berlian Untuk Pak Adi W. Gunawan
Diposkan oleh
R. Lilik Siswanto
di
09:27
0
komentar
Label: Kisah Sukses
Jumat, 11 September 2009
Obat Cemburu
Lek Sis *)
Sudah seminggu ini, letupan api cemburu membara dalam hatiku. Perasaanku tidak mau kompromi dengan akal sehatku. Entah mengapa dan datangnya darimana, api cemburu ini hadir secara tiba-tiba. Seperti serangan jantung yang merenggut nyawa Mbah Surip. Mendadak! Tanpa diduga-duga.
Demikian juga dengan perasaanku. Mendadak, aku tidak rela menyaksikan sikap Rini yang akrab dengan Andre. Padahal rasa cemburu ini sebelumnya tidak ada. Aku percaya pada Andre. Sangat-sangat percaya. Aku juga yakin bahwa keakraban mereka lantaran kegiatan di OSIS. Tidak lebih.
Andre, pacarku, adalah ketua OSIS di sekolahku. Sementara Rini menjabat sekretarisnya. “Jadi wajar kan kalau mereka akrab,” demikian kalimat penghibur yang bertahta dalam benakku selama 3 bulan ini.
Tapi, sudah seminggu ini kalimat penghibur itu tiba-tiba lenyap. Hilang tak berbekas. Kini digantikan dengan api cemburu yang berkobar-kobar. Aku tidak rela menyaksikan keakraban mereka. Aku tidak rela melihat mereka berdiskusi, meski dalam sebuah rapat OSIS. Bahkan, yang lebih gila lagi, aku tidak rela kalau Andre jadi ketua OSIS. Aku ingin menginginkan seutuhnya. Waktu, tenaga, pikirannya hanya untukku.
Ini benar-benar gila!
Aku sadar ini sebuah tindakan kegilaan, namun anehnya rasa cemburuku lebih menguasaiku. Rasa cemburuku lebih kuat dibanding kesadaranku. Perasaanku lebih perkasa dibanding akal pikiranku.
“Kamu butuh obat!” suara hatiku memberi nasihat.
“Obat cemburu? Dimana aku bisa membelinya?” suara lirih dari bibirku menimpali.
Obat cemburu?
Adakah obat cemburu? Bila ada, lalu dimana aku bisa membelinya? Siapa yang bisa kutanyai? Apakah aku harus bertanya pada Bu Heni, guru BP? Atau bertanya pada ayah atau ibuku?
Ahhh… semakin kupikir justru semakin membikinku bingung. Dan juga membuatku semakin cemburu. Pada Andre dan Rini.
* * *
Tubuhku hinggap di atas tempat tidur. Harum aroma melati yang menguap dari sprei membelai-belai hidungku. Merangsang pikiranku mengembara. Melayang. Menembus batas keberadaan tubuhku.
Pikiranku ada di Bukit Cinta. Obyek wisata yang berada di tepi Rawa Pening. Aku menikmati hamparan air tenang yang tepat berada di depanku. Sambil sesekali kurasakan hembusan angin sepoi-sepoi dari puluhan pohon pinus yang ada di sekitarku.
Oh… Bukit Cinta. Oh… Rawa Pening. Seandainya dirimu berada di Amerika, tentu engkau akan dikenal di seluruh penjuru dunia. Keindahanmu akan disebut-sebut oleh para penulis novel dari negeri Paman Sam. Kecantikanmu akan menghiasi film-film Holywood. Dirimu akan dipuja-puja. Dinas Pariwisata kabinet Obama akan mendadani dirimu agar semakin menarik, semakin memesona, dan semakin seksi.
Tak mau kalah, segenap begawan marketing akan mengemas promosi tentang dirimu sedemikian menarik. Daya magnetis dirimu semakin membesar. Daya tarikmu semakin hebat. Dahsyat! Sehingga puluhan juta wisatawan dari segala penjuru dunia datang kepadamu setiap tahunnya. Bahkan ada ratusan juta penduduk dunia lainnya yang mengimpikan datang menghampirimu.
Hingga dirimu bisa mengalirkan devisa yang besar. Lebih besar dari gundukanmu, Bukit Cinta. Dan, tentu saja engkau bisa mengalirkan kesejahteraan bagi penduduk yang tinggal di sekitarmu.
Oh… Bukit Cinta, oh… Rawa Pening.
Ya… seandainya saja. Tapi, kenyataannya engkau tinggal di Indonesia, Bukit Cinta. Kenyataannya engkau berada di kisaran Ambarawa, Rawa Pening. Semoga engkau bisa menerima kenyataan ini. Siapa yang mau menulis tentangmu? Siapa yang mau lebih peduli untuk mempercantik dirimu? Siapa yang mau menjadikanmu sebagai lokasi shooting film? Siapa yang peduli kepadamu? Ah… aku tidak tahu!
Tiba-tiba aku melihat ada dua orang di atas perahu. Mendayung perahu. Semakin mendekat ke arahku, semakin jelas raut wajah mereka. Ha… Andre dan Rini?
Pengembaraan pikiranku terhenti. Dadaku sesak. Aku tersadar masih di atas tempat tidur. Aku hanya berimajinasi, yang membuat rasa cemburuku semakin meluap. Banjir memenuhi sekujur tubuhku. Derasnya seperti air yang berlari akibat tsunami di Aceh beberapa tahun lalu.
Kini, adegan dalam pikiranku berubah drastis. Indahnya menikmati pesona Bukit Cinta berubah jadi gempuran rasa cemburu. Kini, ada puluhan pertanyaan yang melompat-lompat di pikiranku. Saling tumpah tindih. Semua dalam bentuk tanya. Belum ada setitik jawaban. Serba membingungkan!
Oh… apakah ada obat cemburu? Kalau ada, dimana aku bisa menemukannya? Kepada siapa aku harus bertanya? Bentuknya seperti apa? Berapa harganya? Apakah benar-benar mujarap? Kapan aku bisa memperolehnya? Bagaimana cara memperolehnya? Mengapa aku jadi memikirkannya? Ah, jadi tambah pusing aku dibuatnya. Benar-benar pusing!
Mendadak, pertanyaan-pertanyaan itu buyar. Dering hp membuatku kaget. Ada sms. Dari siapa ya?
Kugapai hp berwarna perak yang ada di meja belajar.
“O… dari tante Agnes.”
“Na, apakah kamu pernah cemburu? Apakah kamu percaya bahwa cemburu adalah bukti cinta? Kalau kamu mau tahu jawabannya, silakan kamu baca buku Love Freak. Aku baru saja mengirimnya, mungkin besok sudah nyampe. Oke? O ya, selamat ulang tahun ya. Ingat, besok kamu sudah 17 tahun lho! Jadi, kamu sudah boleh …. ~Agnes~”
Deg!
Jantungku berdegup kencang. Hukum ketertarikan ala buku Low of Attraction bekerja! Benarkah? Atau hanya kebetulan? Tetapi buku Becoming a Money Magnet bilang Kebetulan yang Tidak Kebetulan.
Ah… entahlah!
Yang penting inikah obat cemburu yang disebutkan oleh suara hatiku itu? Buku Love Freak!
Secepat kilat jempol menari-nari di kipet hpku. Segera ingin kebalas sms dari Tante yang tinggal di Yogyakarta itu.
“Sudah boleh nonton film 17 tahun ke atas kan? :-) Terima kasih ya, dan pasti aku tunggu. Tante Agnes, selalu tahu yang kumau. ~Anna~”
“Hus… Jadi, kamu sudah boleh mengendarai motor. Kamu sudah boleh punya SIM. Oke? Tambah cerdas ya! Dan nitip salam buat ayah dan ibumu. ~Agnes~”
“Oke!” balasku singkat. Khusus sms dengan Tante Agnes, aku tidak berani memakai bahasa gaul. Apalagi nyingkat-nyingkat sms. Huh… bisa-bisa dapat petuah bijak. Maklum, Tante Agnes kerja sebagai editor di salah satu penerbit terbesar di kota Gudeg.
Ah… buku Love Freak? Seperti apakah engkau? Apakah engkau bisa jadi obat untuk virus cemburu yang sedang menyerangku ini?
Sms dari tante Agnes membuatku senang sekaligus menancapkan virus baru di batinku. Virus penasaran. Penasaran ingin segera menyantap buku itu. Ah… betapa tidak enak merasakan cemburu bercampur penasaran.
Sebel!
* * *
Aku menyobek amplop berwarna coklat yang ada di genggamanku. Kugapai isi yang tersembunyi di dalamnya. Satu buku: Love Freak.
Warna pink mendominasi judul buku Love Freak, dengan bingkai berwarna putih. Sedang sampul buku didominasi warna kuning. Segar! Benar-benar perpaduan warna yang memacu adrenalinku. Aku ingin segera mengunyahnya. Melumatnya sampai habis. Tak tersisa.
“Ngebongkar mitos-mitos Cinta secara Radikal,” demikian sederet kata-kata yang tertera di sampul buku. Menemani tulisan Love Freak. Membaca sub judul buku yang ada di genggamanku ini, membuatku semakin penasaran. Semakin membuatku segera melumat seluruh isinya.
Segera kubuka dan kubaca buku yang ditulis oleh S. Rahoyo ini. Aku ingin segera membuktikan sms dari Tante Agnes kemarin, ” Na, apakah kamu pernah cemburu? Apakah kamu percaya bahwa cemburu adalah bukti cinta? Kalau kamu mau tahu jawabannya, silakan kamu baca buku Love Freak.”
Kubaca Love Freak dengan serius. Aku benar-benar membutuhkan obat cemburu. Kubuka lembar demi lembar. Kubaca kata demi kata. Kukunyah, kucerna. Tiba-tiba, mataku terbelalak. Hatiku bergetar. Saat aku mulai membaca halaman 16. Ada getaran semakin membesar saat kubaca halaman 17, apalagi halaman 18.
Inilah yang aku cari selama seminggu ini.
Aku membaca ulang halaman 16 dan 17. Kalau tadi hanya membaca dalam hati, kini aku ingin mendengar bacaan lewat nada dari mulutku.
“Jauh-jauh sebelumnya kamu perlu tahu bahwa (praktik) cinta sama sekali tidak identik dengan pengetahuan tentang cinta. Maksud saya, boleh jadi seseorang tahu banyak tentang cinta, tapi hidupnya sama sekali tidak menunjukkan cinta. Sebaliknya, ada seseorang yang mungkin sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang cinta, tetapi hidupnya mampu membuktikan bahwa ia adalah seseorang yang penuh cinta.
Kalau begitu, mana yang lebih penting: praktik cinta atau pengetahuan tentang cinta? Kalau saya harus memilih salah satu di antara keduanya, saya memilih untuk tidak memilih. Bagi saya, keduanya penting dan saling melengkapi. Tentu saja saya sepakat bahwa pengetahuan tentang cinta sangat tidak cukup tanpa praktik cinta. Tapi, praktik cinta tanpa pengetahuan hakiki tentang cinta, juga bisa menyesatkan!
Contohnya, kamu cemburu ketika pacarmu berjalan bersama orang lain. Dan, kamu mengira cemburu itu merupakan tanda cintamu kepadanya. Kesimpulan berikutnya, semakin besar rasa cemburumu, itu pertanda semakin besar pula cintamu kepadanya. Kesimpulan berikutnya lagi, kalau begitu kamu perlu terus-menerus memperbesar rasa cemburu itu. Kenapa? Ya, itu tadi … karena semakin besar rasa cemburumu dikira semakin besar pula cintamu padanya.
Benarkah cemburu adalah tanda cintamu kepadanya? Omong kosong! Cemburu 100% membuktikan bahwa kamu hanya ‘mencintai’ dirimu sendiri dan bukan mencintainya! Renungkan baik-baik: Si dia (pacarmu tadi) berjalan bersama orang lain. Kamu pun mulai khawatir atau curiga bahwa dia akan mengkhianatimu. Bahkan, mungkin kamu mulai takut akan ditinggalkannya. Atau, dalam bahasa yang sangat disukai para cewek, kamu mulai takut kehilangan dia. Jauh di lubuk hatimu, takut kehilangan itulah yang menjadi asal-muasal munculnya rasa cemburu itu.”
Aku berhenti sejenak. Kucoba mencerna kalimat-kalimat yang baru saja kubaca tersebut. Aku tidak ingin sekedar membaca. Aku ingin memperoleh manfaat yang paling optimal dari membaca buku. Terutama membaca buku Love Freak ini. Aku mulai merasakan obat cemburunya.
Lalu, aku lanjutkan membaca, “Seandainya kamu memercayainya bahwa dia tidak akan mengkhianatimu atau kamu tidak punya rasa takut akan ditinggalkannya, niscaya rasa cemburu itu tidak akan muncul. Nah, jelas bukan, bahwa cemburu 100% demi kepentinganmu atau bukan kepentingannya? Jadi, bagaimana kamu bisa bilang, “Aku cemburu karena aku mencintaimu”? Para cewek (cowok juga!), berhati-hatilah katika pacarmu bilang, “Aku cemburu karena aku mencintaimu!” Kalau itu bukan kalimat gombalan perayu kelas wahid, yakinlah bahwa dengan mengungkapkan kalimat itu pacarmu sedang berperan sebagai serigala berbulu domba! Tampaknya saja kalimatnya manis-manis: “Aku mencintaimu…”, tapi seseungguhnya ia sedang ingin menerkam dan menguasaimu! Ya… tentu saja pada akhirnya semua terserah kepadamu.”
Aku terpana!
Tiga kalimat terakhir membuatku terkejut! Serasa ada orang yang menamparku. Keras sekali.
Jadi selama seminggu ini, aku telah berperan sebagai serigala berbulu domba bagi Andre? Ups… maafkan aku ya Dre.
Aku harus segera minta maaf ke Andre. Aku ingin buktikan bahwa aku benar-benar mencintainya. Aku ingin buktikan bahwa tidak ada hasrat mau menguasainya. Aku bukan serigala berbulu domba. Aku benar-benar domba! Dan akan kubuktikan ucapanku ini.
Tunggu ya Dre. Aku punya kado istimewa buatmu. Kalimat berenergi tinggi yang kudapat dari buku Love Freak ini.
Terdengar bel berdenting nyaring. Jernih. Sejernih suara Ruth Sahanaya.
Tanda waktu istirahat telah habis.
* * *
“An, aku makin cinta kepadamu. Met Ultah ya!” ucap Andre.
Aku tersenyum. Kuberikan senyuman yang paling manis. Senyuman, yang menurut Andre semanis es teller Sruni Ambarawa.
Kami berjalan beriringan. Meninggalkan gedung sekolah.
“O ya, nanti sore aku kan ada latihan basket. Jadi, gimana kalau ngrayain ultahmu besok aja? Sepulang sekolah, terus kita langsung menuju ke Istana Idola,” sambung Andre.
“Oke. Deal!” sahutku mantap.
“An, sms permintaan maafmu manis sekali. I like it!” ucap Andre diiringi senyum elegan. Senyuman khas nya. Senyum yang seminggu ini tidak kulihat. Lantaran api cemburuku yang meledak-ledak kepadanya.
Sekarang, aku benar-benar merasa lega. Plong! Damai kembali bernaung di hatiku.
“Dre, tahukah kamu kalau kata-kata permintaan maaf yang kukirim lewat sms tadi, kucuplik dari buku. Buku Love Freak. Aku ambil kalimat permintaan maaf yang menyentuh jiwaku dari halaman 18 buku itu. Ah… moga-moga aja kamu tidak tahu,” gumanku dalam hati.
Terima kasih Tante Agnes. Engkau telah mengirim obat cemburu buatku.
Terima kasih Love Freak. Aku semakin bersemangat untuk segera membacamu, sampai tetes terakhir.
*) Penulis tergabung dalam “Komunitas Q Semarang”
dan mengelola http://www.leksismenulis.blogspot.com/
Diposkan oleh
R. Lilik Siswanto
di
09:18
1 komentar
Label: Fiksi, Fiksi Seri: Klub MB, Love Freak
Sabtu, 25 Oktober 2008
Resep Rahasia agar siapa pun menghargai Anda
R. Lilik Siswanto (*)
Apakah Anda ingin siapa pun menghargai Anda? Baik pasangan Anda atau pacar Anda, anak Anda, orang tua Anda, atasan Anda, bawahan Anda, tetangga Anda, atau siapa pun mereka! Apakah Anda ingin dimana pun berada orang lain rela menerima Anda sebagai sosok pribadi yang istimewa? Baik di rumah, di tempat kerja, di lingkungan tempat tinggal Anda, di ruang lingkup usaha sampingan Anda, atau dimana pun Anda berada!
Ada satu resep jitu yang baru saja saya dapatkan. Resep yang baru saja saya sadari hanya dipegang teguh oleh sedikit orang, yang menyebabkan mereka menjadi sosok-sosok istimewa dan sukses. Sukses spiritual serta material. Resep ini, bila disampaikan dalam sebuah seminar bisnis, tiket masuknya bisa mencapai jutaan rupiah.
Jadi, maukah Anda mengetahui resep itu? Saya yakin Anda sangat menginginkan. Mengapa? Karena saya yakin Anda ingin dihargai, diterima sebagai sosok yang istimewa, serta Anda sangat ingin dikasihi oleh setiap orang. Bukankah seperti itu keinginan yang menetap dalam hati Anda yang paling dalam?
Menariknya, resep ini akan Anda dapatkan gratis. Anda tidak perlu membeli tiket seminar senilai jutaan rupiah. Anda juga tidak perlu datang ke sana. Anda akan mendapatkan resep ini dengan cara yang sangat mudah. Anda hanya perlu membaca tulisan ini sampai selesai. Menarik kan?
Tapi, sebelum saya menyampaikan satu resep rahasia agar siapa pun menghargai Anda itu, ijinkan saya untuk menceritakan satu kisah yang sangat memukau. Satu kisah yang saya alami kira-kira 10 bulan yang lalu. Saya berharap Anda bisa menemukan resep rahasia tersebut dari kisah yang saya alami itu, seperti halnya saya menemukan resep rahasia itu.
Anda sudah siap?
Inilah kisahnya. Malam itu, sekitar jam 10 malam, saya mendadak terharu. Benar-benar sangat terharu, sekaligus bahagia luar biasa. Sebetulnya pemicunya teramat sederhana. Saya mendapat sebuah SMS.
Awalnya saya penasaran. ”SMS dari siapa ini?” begitu pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya. Maklum, SMS tersebut dari nomer hape yang belum saya kenal, ini terbukti dari namanya belum masuk ke daftar kontak di hape saya.
Semula saya berpikir yang mengirim SMS adalah seorang laki-laki. Dugaan saya ini muncul dari sebuah nama yang tertera di akhir SMS , yaitu Roby. Saya akhirnya mengetahui bahwa si pengirim adalah seorang perempuan saat saya memperoleh SMS balasan, setelah sebelumnya saya mengirim SMS dengan sapaan Pak! Ternyata Roby, si pengirim SMS itu, adalah Miss Roby. Bukan Pak Roby. Saya tersenyum usai membaca SMS balasan itu!
Saya terharu dan gembira bukan lantaran saya seorang laki-laki dan menerima SMS dari seorang perempuan. Tetapi dari lokasi asal si pengirim SMS, juga dari isi SMS nya. Asal lokasi pengirim SMS ternyata dari Hongkong. Terus terang ini membuat saya sangat bergembira. Mengapa? Karena jujur saja, hingga detik malam itu, pesan singkat dari Miss Roby adalah SMS dari luar negeri yang pertama kali masuk ke hape saya. Dalam sepanjang sejarah saya memiliki hape.
Namun, kegembiraan saya bukan hanya dikarenakan negara asal si pengirim saja. Ada hal lain yang membuat diri saya sangat merasa dihargai sebagai seorang pribadi. Yaitu saat saya membaca isi SMS nya. Sebuah saran sekaligus saya rasakan sebagai sebuah sanjungan.
Inti isi dari SMS tersebut adalah Miss Roby menginginkan buku yang saya tulis, berjudul Menjadi Kaya bersama BannerStore, diterjemahkan ke Bahasa Inggris dan Bahasa Taiwan. Sebab ia ingin mengirim buku tersebut ke teman-temannya yang berada di Taiwan, Singapore, dan Hongkong. Dimana mereka semua tidak bisa membaca buku berbahasa Indonesia.
Dheg! Jantung saya berdegup kencang seusai membaca isi SMS itu. Terharu, gembira, sekaligus bangga. Bayangkan kalau hal itu terjadi pada diri Anda, saya pastikan Anda juga akan merasakan hal yang serupa dengan saya. Ya kan?
Dari beberapa kali SMS yang ia kirim, akhirnya saya tahu bahwa Miss Roby adalah seorang TKW asal Indonesia, tepatnya dari daerah Banjarnegara. Yang saat ini bekerja di Hongkong. Dan, ia memperoleh buku yang saya tulis dari kiriman seorang temannya.
Akhirnya hingga saat ini, ada sekian banyak SMS yang berasal dari pembaca buku saya, tetapi hanya satu nama yang paling nyantol di benak saya: Miss Roby. Dia bisa menghargai saya, sehingga saya pun sangat respek kepadanya. Saya lebih mengingatnya dibanding dengan si pengirim SMS yang lain.
Sampai di sini, apakah Anda sudah menemukan resep rahasia agar siapa pun menghargai Anda? Belum? Oke, saya akan segera menjelaskan khusus bagi Anda.
Coba Anda kembali ingat apa yang dilakukan Miss Roby terhadap saya? Dia mengirim sebuah SMS yang menyiratkan betapa berharganya buku hasil karya saya. Sepertinya ia mau mengucapkan,”Pak Lilik, buku Menjadi Kaya bersama BannerStore sangat bagus! Saya akan mengirim ke teman-teman saya, yang notabene mereka bukan orang-orang Indonesia. Buku Menjadi Kaya bersama BannerStore sangat layak dibaca oleh mereka. Jadi, tolong diterjemahkan ke bahasa mereka.”
Anda sudah tahu kan resep rahasia yang saya maksud? Saya akan sebentar lagi memberitahu secara gamblang buat Anda. Resep yang sebenarnya sudah lama ada, dan mungkin sudah Anda ketahui dan pahami. Apa itu? Ini dia, satu-satunya resep agar siapa pun menghargai Anda adalah Anda memberi penghargaan kepada mereka dulu. Jadi, kata kuncinya adalah Anda melakukan terlebih dahulu. Anda tabur sikap menghargai kepada siapa pun dan dimana pun, lalu bersiap-siaplah kalau akhirnya siapa pun akan menghargai Anda. Dimana pun Anda berada!
”Tapi, selama ini saya sudah berusaha menghargai orang lain. Saya selalu berusaha membuat orang lain senang, tapi kenapa ada beberapa orang yang memberi balasan yang sebaliknya. Mereka menghina saya. Mereka mencemooh saya. Mereka acuh. Dan sebagian dari mereka menusuk saya dari belakang. Bagaimana ini, kenapa resep yang Anda uraikan tidak jitu?” Mungkin dalam hati Anda muncul pernyataan dan pertanyaan seperti itu, atau sejenis itu.
Bagus! Kalau Anda mengalami hal-hal itu. Anda sudah benar melakukan kewajiban Anda, selalu berusaha menghargai orang lain. Lalu, bagaimana menghadapi sebagian orang yang bereaksi negatif padahal Anda berbuat positif kepada mereka? Jawabannya adalah Anda memerlukan resep lain yang harus Anda ketahui. Dan setelah resep itu Anda ketahui, Anda harus mempraktikkannya. Satu resep ajaib yang lain. Satu resep yang bisa mewujudkan apa pun keinginan Anda. Entah itu kebahagiaan, hubungan yang harmonis dengan orang lain, kecukupan materi, dan apa pun impian Anda yang lain.
Apa itu resep rahasia lain yang bisa mewujudkan apa pun impian Anda?
Anda perlu bersabar, dan menemukan jawabannya di artikel selanjutnya.
Selamat menunggu!
* Penusaha [sengaja tanpa g]
Diposkan oleh
R. Lilik Siswanto
di
10:10
7
komentar
Label: Spiritual
Jumat, 28 Maret 2008
Aku vs saya
Aneh... saya sendiri tidak tahu darimana asalnya. Mengapa bisa terjadi? Sejak kapan perasaan ini muncul? Bagaimana hal ini bisa terjadi? Siapa yang mempengaruhi sehingga bisa terjadi? Hanya tahu dan merasakan apa yang terjadi... itu saja. Selain itu masih menjadi misteri, masih dalam tanda tanya. Masih memerlukan jawaban.
Saya merasakan kurang nyaman menulis kata ’aku.’ Bahkan bisa saya katakan tidak nyaman. Saya lebih nyaman menulis kata ’saya’ dibanding menulis ’aku.’ Setiap mau menulis kata ’aku’, tiba-tiba, entah datang darimana, entah dari siapa, entah bagaimana, hati saya mengatakan ’aku’ sebagai kesombongan. Kecongkakan. Memegahkan diri. Sehingga, bila dalam pikiran saya menyuruh menulis kata ’aku’ dan saya tulis kata ’aku’... tidak lama kemudian, hati saya berkata. SOMBONG! CONGKAK! Dan, hati saya menyarankan saya mengantinya dengan kata ’saya.’
Pernah suatu ketika saya terlanjur menulis kata ’aku’, kemudian hati saya berkata, ”Ganti dengan kata saya. Aku itu sombong. Congkak. Ayo, segera ganti.” Dan ketika saya mau menggantinya, gantian pikiran saya berkata, ”Menulis kata ’aku’ bukan berarti sombong. Itu hanya menunjukkan sebagai kata ganti dirimu. Itu hanya bentuk kamu menunjukkan jati dirimu. Itu juga bentuk bahwa dirimu percaya diri. Bukan sebuah kesombongan. Bukan sebuah tindakan congkak. Jadi, tenang saja, tidak usah kamu ganti.”
Mana yang benar? Aku atau saya? Pikiranku atau hati saya? Sampai saat saya menulis ini, saya masih mencari jawaban. Bukan dari kata orang lain. Tetapi dari jawaban dalam diri. Antara si aku dengan si saya.
Meski membuat saya kurang nyaman, tapi biarlah saya jalani, nikmati, meski saya belum memahami saat menjalani. Saya yakin, suatu saat akan saya temui jawaban. Bertemu solusi dan rekonsiliasi (akur?) antara si aku dengan si saya...
Kendalisodo, 26 Maret 2008
22.29 Wib
Diposkan oleh
R. Lilik Siswanto
di
08:27
2
komentar
Label: Catatan harianku



